Mengenal Pola Makan Balita | Pentingnya Makanan Selingan

Ata Aja
Baby Food

Asuhan: Tuti Soenardi

USIA balita adalah usia rawan karena merupakan usia tumbuh kembang. Pertumbuhan pada usia balita sangat mempengaruhi kualitas manusia pada usia remaja dan dewasa. Gizi makanan sangat mempengaruhi pertumbuhan sel otak, karena itu perlu diperhatikan agar sel otak dapat tumbuh sempurna dan menjadi dasar kecerdasan. Pertumbuhan sel otak berlangsung dari janin sampai lahir dan berhenti pada usia 3-4 tahun.

Pemberian makanan balita perlu diperhatikan keseimbangan gizinya. Berilah makanan beraneka ragam yang telah diperkenalkan sejak bayi usia 6 bulan, ketika sudah diberi nasi tim. Sebab usia balita sangat rawan maka perlu perhatian orangtua untuk membentuk pola makan yang baik. Hal ini sangat dibutuhkan dalam membentuk perilaku makan sehat. Seorang ibu harus tahu, mau, dan mampu menerapkan pola makan sehat dalam keluarga, karena balita akan meniru perilaku makan dari orang sekelilingnya atau lingkungan dalam keluarga.

Aneka ragam bahan makanan yang perlu diperkenalkan untuk balita adalah:

Golongan sumber Tenaga, terdiri :

- Nasi, Roti, Mie, Tepung-tepungan, Singkong, Kentang, Ubi & lain-lain.

Golongan sumber Tenaga diperlukan untuk menunjang aktivitas anak seperti :

- Bergerak, Berlari, Bermain dan sebagainya.

Sumber Zat Pembangun, terdiri :

- Daging, Ikan, Susu, Hati, Ayam, Tahu, Tempe, dan Kacang-kacangan.

Diperlukan untuk pembentukan berbagai jaringan tubuh baru seperti pembentukan gigi, tulang, dan lain-lain.

Sumber zat Pengatur, terdiri :

Vitamin dan Mineral, Terutama vitamin A, D, E, K, B dan C serta masih banyak lagi. Mineral adalah zat besi, kalsium dan lain-lain untuk mengatur proses metabolisme dan pertumbuhan tubuh.

Golongan bahan makanan tersebut harus ada dalam menu sehari-hari. Jangan berlebihan.

YANG tak kalah penting adalah makanan selingan, yaitu jajanan yang diberikan di antara waktu makan. Makanan selingan ini bisa membantu seandainya anak tidak cukup porsi makannya sebab anak susah makan. Namun pemberian yang berlebihan pada makanan selingan pun tidak baik, karena mengganggu napsu makan pada saat makan utamanya.

Makanan selingan sebaiknya diberikan jauh sebelum waktu makan, misalnya antara pukul 09.00-10.00 dan sore hari antara pukul 15.00-16.00.

Tentunya jenis makanan selingan perlu diperhatikan, yaitu: mengandung sumber tenaga, zat pembangun (protein), dan zat pengatur (vitamin dan mineral).

Contohnya: arem-arem isi daging sayuran;

tahu isi : tahu dengan isi daging dan sayuran;

siomay : ikan dan sayuran; risoles isi ayam dan sayuran; pizza dan lain-lain.

Makanan selingan ini antara lain berfungsi untuk :

(1) Memperkenalkan aneka jenis bahan makanan yang terdapat dalam bahan makanan selingan.

(2) Melengkapi zat-zat gizi yang mungkin kurang pada makanan pagi, siang, dan malam.

(3) Mengisi kekurangan kalori akibat banyaknya aktivitas anak pada usia balita.

(4) Dapat berfungsi untuk mengatasi anak rewel.

Pemberian makanan selingan dapat dilakukan dengan berbagai cara.

Makanan selingan dapat dibuat sendiri di rumah dan sangat higienis dibanding beli di luar rumah. Kalau Anda terpaksa membeli makanan selingan di luar rumah, sebaiknya dipilih tempat yang bersih dari kontaminasi bakteri (tidak terbuka atau mudah kena debu). Pemilihan jenis makanan selingan yang baik juga perlu diperhatikan. Janganlah memberi makanan selingan berlebihan, meskipun si anak sangat menikmati. Sebaiknya makanan selingan tidak membosankan sekaligus memperkenalkan jenis bahan makanan yang belum dikenal. Makanan selingan berupa buah-buahan juga baik, kalau anak menolak selingan yang mengandung bahan lengkap gizi.

Makanan selingan yang terdiri dari sumber kalori saja seperti gula dan tepung, contohnya: gula permen, es sirup, manisan, cokelat dan lain-lain merupakan makanan selingan yang tidak baik. Hal itu disebabkan makanan seperti itu akan mengganggu nafsu makan dan pula dapat merusak gigi.

Kecenderungan makanan manis sejak kecil akan dibawa sampai dewasa. Ini akan berpengaruh pada kesehatan tubuh, dan bisa menyebabkan kegemukan yang mempunyai risiko terhadap penyakit.

0 Comments