Komputer | Dampak Terhadap Kesehatan



Hati-hatilah, bila sepulang kerja di kantor, Anda kerap mengeluh penglihatan menjadi buram, kepala pusing, kram otot pinggang, otot lengan dan bahu. Bisa jadi, itu berhubungan dengan cara Anda bekerja di depan komputer. Keluhan kerja yang berkait dengan komputer, harus diakui merupakan sesuatu yang relatif baru. Artinya, dulu hal seperti ini sama sekali belum diperkirakan. Barulah, setelah beberapa lama komputer menjadi bagian penting dari aktivitas para karyawan, problem ini muncul. Menurut Dr Tan Malaka, MOH, DRPH, Ketua Umum Asosiasi Hiperkes dan Keselamatan Kerja Indonesia, keluhan yang sering sekali dikemukakan oleh para karyawan yang hampir setiap hari bekerja di depan komputer adalah menyangkut kesehatan mata, otot-otot bahu, pinggang, dan tangan. Keluhan pada mata, menurut lulusan Master of Occupational Health, Universitas Filipina itu, terjadi karena ketidaksesuaian cahaya dan ketidaktahuan menempatkan posisi komputer dengan baik. Hal itu bila berlangsung dalam waktu lama, bisa menimbulkan gangguan pada mata. Jadi, jangan heran bila banyak pegawai yang mengeluh penglihatannya menjadi kabur. Untuk mengatasi keluhan pada mata tersebut hendaknya cahaya yang datang sesuai. Itu berarti jangan terlalu silau, tapi juga tidak terlalu buram. "Cahaya yang ideal yaitu 200 luks," ujar Tan Malaka. Cahaya yang terlalu silau, menurutnya, akan menyebabkan mata harus berkontraksi kuat sehingga membuatnya cepat lelah dan menimbulkan keluhan sakit kepala. Ia juga menyarankan agar cahaya sebaiknya datang dari arah kiri. Ini dimaksudkan agar cahaya itu bisa menerangi tulisan atau bacaan yang sedang dikerjakan secara optimal. Dulu pernah ramai diperbincangkan tentang pengaruh radiasi dari layar komputer terhadap kesehatan mata dan kepala. Tapi, menurut Tan Malaka, pengetahuan yang didapat dari penelitian dan banyaknya pengalaman menunjukkan bahwa hal itu tidak perlu lagi menjadi kekhawatiran. "Lagi pula perusahaan komputer sendiri telah mengurangi radiasi sampai ke tingkat yang aman." Dijelaskannya, keluhan nyeri otot pinggang, bahu, dan tangan dapat ditimbulkan antara lain karena ketidaksesuaian penempatan komputer dan tempat duduk. Penggunaan kursi yang tidak bisa dinaikturunkan adalah salah satunya. Hal itu menyebabkan orang yang harus menyesuaikan diri dengan pekerjaan, dan bukan pekerjaan yang menyesuaikan diri dengan kondisi seseorang. Posisi komputer dengan tempat duduk juga harus tepat, agar tidak memberikan stres pada otot. "Posisi layar sebaiknya sejajar dengan sudut penglihatan." Tempat duduk, kata dia, harus membuat si pengguna (komputer) melihat layar komputer dengan tidak mendongak atau menunduk. Selain memiliki fleksibilitas ketinggian, tempat duduk alangkah baiknya bila bisa diputar. "Agar pegawai tidak bosan," cetusnya. Sementara posisi tangan sebaiknya tidak diletakkan terlalu tinggi pada keyboard, agar otot lengan dan bahu tidak cepat pegal. Posisi tangan hendaknya sejajar dengan siku. Apalagi bagi mereka yang berhadapan dengan komputer selama berjam-jam setiap harinya, dan pada akhir kerja seringkali mengeluh sakit pinggang, pegal di tangan dan kram pada otot-otot. Keyboard juga kadang-kadang tidak begitu baik. Ada yang begitu keras sampai harus ditekan dengan kuat, sehingga jari juga bisa cedera. Hal itu menunjukkan bahwa alat juga dapat menimbulkan persoalan. "Prinsipnya, kita harus dalam keadaan santai saat duduk dan melihat komputer," ujar dokter yang juga mengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ini. Keluhan sakit kepala, menurutnya, juga tidak dapat diabaikan, terutama bila terjadi terus menerus. Dan keluhan sakit kepala itu mungkin terjadi karena orang yang bersangkutan tak tahan terhadap silau atau karena posisi kepala yang tidak pas. Mengantisipasi pelbagai problem kesehatan ini, Tan Malaka menyarankan agar para manajer di perusahaan bersikap pro-aktif dan tak segan meminta nasehat dari para ahli di bidangnya. Hal itu juga dapat dilakukan dengan mengadakan survei ergonomi berkomputer. "Survei semacam ini haruslah dimulai sejak suatu kantor didesain, karena akan lebih sulit dan lebih mahal bila hal itu baru dilakukan setelah semuanya berjalan." Dijelaskannya pula, bahwa di beberapa perusahaan multinasional telah disediakan panduan penggunaan komputer antara lain mengenai cara menempatkannya agar orang dapat melihatnya dengan sudut pandang dan pencahayaan yang baik. Tapi perusahaan lokal atau yang berbasis di Asia, masih banyak yang belum memperhatikan hal ini. Boleh jadi karena prihatin akan hal ini, pemerintah Singapura sekarang berusaha memasukkan peraturan tentang kesehatan berkomputer ke dalam Undang-Undang tentang kesehatan kerja. Bagaimana di Indonesia? Menurut Tan Malaka, hingga saat ini masih banyak perusahaan yang belum memperhatikan hal-hal di balik produktivitas. "Padahal, kesehatan kerja termasuk kesehatan berkomputer amat terkait dengan produktivitas," ujarnya menekankan. Tetapi bidang ini memang sesuatu yang tidak datang sendiri dan harus diupayakan secara pro-aktif. Sementara peraturan perundang-undangan mengenai kesehatan kerja, sebegitu jauh juga belum mengatur tentang kesehatan berkomputer. Tetapi, menurut Dr Tan Malaka, hal itu telah diatur secara base practice melalui ergonomi perkantoran misalnya tentang kursi dan sebagainya. Asal tahu saja, prinsip ergonomi menekankan bahwa pekerjaanlah yang harus menyesuaikan diri dengan manusia, dan bukan manusia yang menyesuaikan diri dengan pekerjaan. Dan satu hal lagi yang perlu diketahui, keluhan kesehatan yang berkaitan dengan komputer tidak hanya terjadi karena peralatan yang ada, tapi bisa juga karena sikap orang itu sendiri yang salah. "Kalau ada orang yang memang cara kerjanya salah, misalnya duduk membungkuk, kita berikan training." Training misalnya, berupa backschool atau latihan untuk memelihara tulang punggung

0 Comments